Posts Subscribe to (PUT YOUR BLOG NAME HERE)Comments

Minggu, 14 Juni 2009

Resensi Film : Ketika Cinta Bertasbih


Ini adalah film kedua yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El-Shirazy setelah sebelumnya Hanung Bramantyo membesut Ayat-ayat Cinta ke dalam layar lebar. Meskipun temanya sama-sama tentang cinta dan dibalut dalam atomosfir agama Islam, Ketika Cinta Bertasbih (KCB) punya beberapa perbedaan dibanding pendahulunya.

Pertama, tentu aja dukungan sponsor yang jauh lebih kuat. Dengan puluhan nama perusahaan besar di belakangnya, termasuk salah satu bank nasional terbesar di Indonesia, KCB bisa melakukan pengambilan gambar selama 22 hari di Mesir. Hal yang nggak bisa dilakukan di Ayat-ayat Cinta.

Kedua, nama-nama besar yang terlibat dalam pembuatan film ini. Chaerul Umam, sutradara senior yang pernah mendapatkan Piala Citra tahun 1992 untuk film Ramadhan dan Ramona, dipilih untuk menggarap KCB bareng penulis naskah kawakan Imam Tantowi. Ada juga sederetan aktor dan aktris terkenal yang ikut bermain dalam film ini. Sebut aja Didi Petet, Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, bahkan penampilan cameo dari Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsudin.

Ketiga, hampir semua pemeran utama dalam film ini didapat dari roadshow casting yang digelar di sembilan kota di Indonesi. Sebisa mungkin, yang terpilih untuk memerankan masing-masing tokoh di KCB adalah orang yang kepribadian dan ciri-ciri fisiknya sesuai dengan tokoh tersebut. Setidaknya di mata para juri alias casting director, yang terdiri dari Didi Petet, Neno Warisman, Deddy Mizwar, dan sang penulis novel sendiri Habiburrahman El-Shirazy.

Akting Oki Setiana Dewi, cewek asal Batam yang memerankan tokoh Anna, patut diacungi jempol. Tampil natural dan nggak dibuat-buat, cewek berjilbab sama sekali nggak terlihat seperti aktris pendatang baru. Hal yang sama juga terjadi pada Kholidi Asadi Alam yang memerankan Azzam, tokoh utama yang jadi sentral cerita di KCB. Meskipun kadang masih terlihat kaku, cowok yang sedang menuntut ilmu agama di sebuah Pondok Pesantren ini punya potensi untuk jadi aktor profesional.

Jalan ceritanya yang berkisah tentang lika-liku para mahasiswa Indonesia di Mesir dalam mencari jodoh. Secara plot emang nggak ada masalah, kecuali beberapa adegan sempilan yang sebenarnya nggak penting. Tapi berhubung banyak pemain yang masih baru, ada cukup banyak scene yang jadinya terlihat lebay dan dibuat-buat.

Proses editingnya juga belum terlalu rapi. Keliatan banget saat adegan makan malam di pinggir pantai, tokoh Azzam dan Furqon mengobrol di depan blue screen yang dibuat seperti background pantai. Tapi karena editingnya masih kasar, adegan itu jadi terlihat agak culun.

Secara keseluruhan sih film ini cukup menghibur. Meskipun membawa nama agama, dialog-dialog di KCB nggak terkesan menghakimi atau menasehati penonton (kecuali mungkin obrolan Azzam dengan Eliana di dalam bis). Yang disayangkan, ternyata film yang emang akan ada sekuelnya ini nggak diakhiri dengan kata 'Tamat', melainkan 'To Be Continued'. Lengkap dengan cuplikan adegan-adegan di film KCB 2. Persis kayak sinetron.

Trailernya :


Categories



Widget by Scrapur

0 komentar:

Poskan Komentar

 

About Me

Foto Saya
The fact, pendi is honest & optimistic. i am still study in college. for complete info, just add and look my fb

Pengikut

Dark Side Blogger Template

Dark Side Blogger Template Copyright 2009 - RESENSI FILM is proudly powered by Blogger.com Edited By Belajar SEO